Survey GERD-Q

MASUKAN SCIENTIFIC EXPERT MEETING MENGENAI PENGOBATAN KONSTIPASI KRONIK

Jakarta, 1 Juni 2025 — Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI), bekerja sama dengan PT. Eisai Indonesia, telah menyelenggarakan Scientific Expert Meeting “Real World Experience of Elobixibat as Chronic Constipation Treatment in Indonesia” pada Minggu, 1 Juni 2025. Acara ini mempertemukan para pakar gastroenterologi untuk  membahas efektivitas Elobixibat dalam penatalaksanaan konstipasi kronik.

Pertemuan ini menghadirkan dua sesi utama yang menyajikan tinjauan teoretis dan bukti praktik klinis penggunaan Elobixibat.

Pada sesi pertama, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, MMB, SpPD, K-GEH, FACP, FACG menjelaskan mekanisme kerja Elobixibat sebagai IBAT (ileal bile acid transporter) inhibitor, yang meningkatkan sekresi cairan di usus dan mempercepat transit usus besar menjadikannya terapi baru bagi pasien konstipasi kronik yang tidak membaik dengan laksatif konvensional.

Sesi kedua oleh Prof. dr. Marcellus Simadibrata, SpPD, K-GEH, PhD, FACG, FASGE, memaparkan kasus-kasus nyata penggunaan Elobixibat di Indonesia. Hasil menunjukkan adanya efektivitas yang baik.

Rekomendasi Penggunaan Eloboxibat pada Konstipasi Kronik

Pertemuan ini menghasilkan usulan algoritma terapi konstipasi kronik, antara lain:

  • Elobixibat sebagai monoterapi dapat diberikan pada pasien tanpa komorbiditas selama 10–14 hari.
  • Evaluasi dilakukan pada hari ke-15, dan dosis dapat disesuaikan berdasarkan respons (dinaikkan menjadi 1×15 mg atau diturunkan bila ada efek samping).
  • Terapi kombinasi disarankan pada pasien dengan kondisi khusus atau kegagalan terapi laksatif sebelumnya.
  • Kombinasi dapat dilakukan dengan probiotik, laksatif stimulan/osmotik, atau agen prokinetik, tergantung indikasi klinis.
  • Pertimbangan jangka panjang: Elobixibat dapat dilanjutkan 1–4 bulan bila hasil baik, disertai strategi tapering off untuk melatih pola defekasi alami.

 

 

Dengan pendekatan berbasis data dan pengalaman praktik klinis, Elobixibat diharapkan dapat menjadi tatalaksana yang aman, efektif, dan tepat guna dalam tatalaksana konstipasi kronik.

Bagikan:
Facebook
Twitter
LinkedIn